Jumat, 30 September 2016

Pembelajaran Hidup melalui FLP Tegal


Mungkin akan lain ceritanya kalau saja mba Fani Rosanti alias Kelopak Biru tidak memintaku  membantunya menghidupkan kembali FLP Tegal pasca ditinggal mba Sinta Yudisia 2007 silam. Saat itu di tahun 2009 aku tengah disibukkan dengan kuliah, menyelesaikan Skripsi, organisasi di kampus dan menjadi pengurus  sebuah taman bacaan di Kota Tegal. Namun, apa boleh buat permintaan yang membuatku tidak bisa menolak. Aku didaulat untuk menjadi panitia Talk Show “Menulis Membuat Kita Kaya” tanggal 26 Juli 2009 dengan pembicara SN Ratmana (Sastrawan angkatan Taufik Ismail ) dan Suyuti Abdul Ghofir (Wartawan Radar Tegal). Talk Show itu diadakan untuk menarik minat peserta agar mau menjadi anggota FLP Tegal.
Mba Fani begitu panggilannya baru saja lulus Sarjana Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang. Beliau aktif sebagai pengurus di FLP Semarang kampus UNNES Sekaran. Setelah pulang ke Tegal, beliau mencari komunitas FLP yang konon kabarnya ada di Tegal. Apa boleh buat ternyata vakum setelah ditinggal mba Sinta Yudisia pindah ke Surabaya yang selaku Ketua FLP Tegal  saat itu. Kepengurusan yang baru belum bisa memaksimalkan potensi yang ada, sehingga berhentilah kegiatan pertemuan kepenulisan yang tadinya aktif diadakan oleh mba Sinta. Mba Fani mencoba menghubungi kembali pengurus atau anggota FLP Tegal yang dulu pernah aktif. Pada akhirnya beliau menghubungi aku.
Awalnya aku setengah hati membantu mba Fani menghidupkan FLP Tegal, yang penting proposal kegiatan jadi, talk show terselenggara dengan baik, titik. Hanya itu. Yaah, faktor ketidakenakan juga mempengaruhi. Namun, setelah talk show terselenggara, pikiranku berubah. Ternyata ada banyak orang yang mulai tertarik ingin bergabung dengan FLP Tegal. Dari anak-anak SMA, kuliah bahkan yang sudah jadi  guru dan PNS pun berminat bergabung. Ada Ali Irfan yang mantan wartawan saat kuliah di Cirebon, saat itu paling aktif bertanya saat talk show. Talk show yang dihadiri oleh 26 peserta wanita dan 11 peserta laki-laki ini meminjam dua ruang kelas Politeknik Harapan Bersama. Alhamdulillah beberapa orang yang berminat bergabung dengan FLP Tegal adalah mahasiswa kampus tersebut. Pasca talk show berlangsung diadakan pemilihan kepengurusan FLP Tegal yang baru di pelataran pendopo Kota Tegal, kami duduk di atas rumput dan terjadilah pemilihan itu. Ali Irfan, sang guru SDIT di Slawi yang mantan wartawan itu mendapat suara terbanyak untuk menjadi Ketua FLP Tegal periode 2009-2011. Yang bersangkutan pun dengan penuh percaya diri siap menjadi Ketua. Fani Rosanti sebagai Sekretaris dan aku sebagai Bendahara.
Rapat demi rapat pun diselenggarakan untuk menyelenggarakan pelatihan kepenulisan rutin untuk anggota FLP Tegal. Namun, takdir berkata lain. Mba Fani  akhirnya menikah akhir tahun 2009 dan harus mengikuti suami ke Jakarta. Jadilah aku sekretaris menggantikan beliau. Hiks… baru merintis, kok ditinggal pergi? Mau tak mau aku mengemban amanah ini. Terlintas nama Sutono seorang penjaga toko besi yang keluar kerja demi mengikuti pertemuan rutin FLP Tegal dan memilih menjadi loper koran. Beliau selalu hadir di pertemuan FLP Tegal dengan menggunakan sepeda bututnya yang jaraknya berkilo-kilo dari tempat kami kumpul. Beliau selalu datang tepat waktu dan tidak pernah absen barang satu kali pun. Ali Irfan pun lebih jauh lagi jarak rumahnya, meski naik sepeda motor namun selalu datang tepat waktu dan tidak pernah absen dalam rapat maupun pertemuan FLP Tegal. Malu aku dibuatnya, aku yang tinggal di Kota Tegal, akses kemana saja dekat dan Alhamdulillah difasilitasi orang tua sepeda motor dan komputer dibandingkan dengan mereka belum apa-apa perjuanganku ini. Tertantanglah aku untuk terus menggerakkan roda organisasi ini.
Kegamanganku mengenai arah pembinaan FLP Tegal ini sedikit terobati. Hadirlah Eri Fitniati yang baru saja lulus Sarjana Pendidikan Fisika Universitas Negeri Semarang, beliau juga pengurus FLP Semarang. Bagaimana tidak bingung pasalnya kami: Ali Irfan, aku dan pengurus lainnya benar-benar baru terjun di FLP. Memang sih aku dan Sutono sudah bergabung di FLP Tegal sejak 2006, namun kami hanyalah sebagai anggota yang kurang begitu paham arah pembinaan FLP sebagaimana mestinya.
Tercatat dalam sejarah kepengurusan FLP Tegal periode Ali Irfan yang menjabat dua kali berturut-turut dari 2009 sampai 2013, dimana aku menjadi sekretarisnya telah mengadakan beberapa kegiatan. Diantaranya adalah  lomba menulis dengan tema “Take Me Out Because Allah” yang telah diselenggarakan pada bulan November 2009. Kemudian Pelatihan Kepenulisan (Plat Pulpen) yang diadakan setiap sebulan sekali:  tanggal 13 Desember 2009 dengan pembicara Rahman Hanifan (FLP Pemalang), Tanggal 31 Januari 2010 dengan pembicara Aries Adenata (FLP Solo Raya), tanggal 14 Pebruari 2010 dengan pembicara Sutono Adiwerna (Cerpenis) dan seterusnya. Selain Plat Pulpen selama pertemuan di tahun 2010 kami juga mengadakan “Bakar Sate” (Bahas Karya Sambil Telaah). Karya-karya yang dibahas khusus untuk cerpen remaja yang target akhirnya adalah menerbitkan sebuah buku. Alhamdulillah terbitlah buku Antologi cerpen remaja “Akulah Pencuri Itu” yang launching di Book Fair Slawi tanggal 11 Desember 2010.

Pada tahun 2011 FLP Tegal dipercaya menyelenggarakan rangkaian acara Up-Grading Wilayah Jawa Tengah. FLP Tegal juga mengadakan Talk show “Tegal Cerdas Tegal Menulis” 08 Mei 2011, dengan pembicara Afifah Afra, Wijanarto (budayawan Tegal), dan Tedi Kartino (Motivator).

Pada tahun 2012 kami membuat proyek penggalangan dana dan penerbitan buku secara indie karya sastrawan teman karib Taufik Ismail: SN. Ratmana. Pada tanggal 12 Februari 2012 adalah Launching buku “Lolong Lelaki Lansia” dengan pembedah buku Kurnia Effendi (Cerpenis Nasional asal Kabupaten Tegal) dan Prof. Abu Suud (Mantan Rektor UNNES). Karya terbaru dari FLP Tegal adalah Antologi Kedasyatan Doa “Kepak Sayap Patah” terbit 2016.

Melalui FLP Tegal aku mengenal perjuangan Sinta Yudisia dalam menjalankan FLP Tegal. Kesabaran, ketekunan beliau untuk membina kami, mengingatkan kami bahwa menulis sejatinya bukan untuk terkenal atau ajang gaya namun menyebarkan pemikiran yang mencerahkan banyak orang.  Yang bisa membantu banyak orang mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Oleh karena itu ruh penulis harus selalu dibangun dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah sang Pemberi Ilmu.
Melalui FLP Tegal pula aku mengenal sahabat karib sepanjang masa: Almarhum Shinta Ardjahrie. Kami mulai berkenalan saat FLP Tegal akan menyelenggarakan Talk Show Remaja “What About Me?” tahun 2006. Kami berboncengan sepeda mengelilingi Kota Tegal untuk mendapatkan sponshor dari beberapa perusahaan. Pernah juga kami menemani mba Sinta Yudisia pergi ke Bandung untuk bedah buku beliau yang berjudul Armanusa (Mizan) di UIN Bandung. Setelah ia kuliah di Purwokerto dan bergabung dengan FLP Purwokerto Nta panggilan akrabnya juga menjadi moderator dalam Talk Show Tegal Cerdas, Tegal Menulis, kemudian  mengkonsep dan mengeksekusi jalannya launching buku Lolong, Lelaki Lansia karya SN Ratmana. Sahabat yang asyik diajak berdiskusi, pemberi ide-ide brilian dan eksekutor yang baik.
Ada sosok-sosok lain di FLP Tegal yang berkomitmen mewujudkan mimpi mereka menjadi penulis dengan segala keterbatasan yang ada. Sutono yang menuliskan karya-karyanya di buku setelah rapi baru pergi ke rental komputer, Sutono yang selalu menyisihkan Rp.3000,- untuk ke warnet setiap hari. Ada juga Ali Irfan yang telah menjadi Writerpreuner. Bermodal delapan juta ia menerbitkan bukunya sendiri berjudul B’Right Teacher, mempunyai tim penjual dan road show bukunya. Ada juga Puput Happy yang bergabung di FLP Tegal 9 Oktober 2009 pun telah sukses menerbitkan beberapa buku Antologi, bahkan mempunyai penerbitan sendiri yakni Puput Happy Publishing. Tak lupa pula Irfan Fauzi anggota yang bergabung 24 Juli 2011 dan menuliskan kisah hidupnya pada Antologi Kisah Kedasyatan Doa FLP Tegal “Kepak Sayap Patah” berasal dari keluarga yang kurang mampu. SD sampai SMA ia enyam di Kejar Paket, sampai akhirnya ia bisa kuliah di Politeknik Muhammdiyah Tegal sambil bekerja. Saat ini ia telah beberapa kali memenangkan lomba menulis cerpen.


Sungguh armada ini (FLP Tegal) menjadi sebuah wadah pembelajaran hidup sepanjang masa yang memantikkan potensi kami, mengakrabkan kami, mendidik kami menjadi manusia-manusia gigih, konsisten dan pantang menyerah untuk mewujudkan mimpi kami menjadi seorang penulis. Menjadi manusia yang bermanfaat bagi banyak orang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar